Sabtu, 11 Mei 2013

Peran Teman Sebaya terhadap Perilaku Seksual...

GASTER Vol. 10 No. 1 Februari 2013 39 Peran Teman Sebaya terhadap Perilaku Seksual... A. PENDAHULUAN Remaja adalah mereka yang sedang mengalami perubahan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Perubahan tersebut mencakup perubahan fisik dan perubahan emosional yang kemudian tercermin dalam sikap dan tingkah laku. Menurut WHO (badan PBB untuk kesehatan dunia) batasan usia remaja adalah 12 sampai 24 tahun. Sementara menurut BKKBN (Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak Reproduksi batasan usia remaja adalah 10 sampai 21 tahun. Dalam penelitian “Survai Perilaku Berisiko Yang Berdampak Pada Kesehatan Reproduksi PERAN TEMAN SEBAYA TERHADAP PERILAKU SEKSUAL PRA NIKAH PADA REMAJA DI SMA MUHAMMADIYAH 3 SURAKARTA Maryatun Sekolah TinggiIlmu Kesehatan (STIKES) ‘Aisyiyah Surakarta ABSTRAK Latar Belakang: Ketidaksiapan remaja menghadapi perubahan dalam dirinya termasuk dorongan seks mulai meningkat dan sulit dikendalikan, tidak jarang hal tersebut menyebabkan konflik pada diri remaja. Situasi tersebut diperburuk dengan adanya kemudahan remaja dalam mengakses informasi tentang seks yang keliru melalui media cetak dan elektronik misalnya majalah, video dan internet. Kesempatan untuk diskusi tentang kesehatan reproduksi masih sangat terbatas, bahkan masih banyak orang tua dan guru yang menganggap tabu untuk dibicarakan. Orang tua seharusnya merupakan pihak pertama yang bertanggungjawab memberikan informasi tentang kesehatan reproduksi bagi remaja, selain pihak sekolah melakukan pendidikan seksual untuk memotivasi pilihan yang sehat bagi siswa dalam perilaku seksualnya Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan peran teman sebaya dengan perilaku seksual pranikah pada remaja. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif korelatif dengan pendekatan studi potong lintang/ cross sectional. Lokasi penelitian di SMA Muhammadiyah 3 Kota Surakarta. Sampel penelitian ini adalah remaja siswa SMA Muhammadiyah 3 Surakarta yang berusia 14-17 tahun, belum menikah dan tinggal dengan orang tua kandung sebanyak 50 orang. Hasil Penelitian: Ada hubungan peran teman sebaya dengan perilaku seksual pranikah pada remaja di SMA Muhammadiyah III Kota Surakarta. Hasil analisis data dengan Chi Square dalam taraf kepercayaan 95% (α = 5%), didapatkan hasil nilai p value sebesar 0,001 untuk peran teman sebaya dengan perilaku seksual pra nikah pada remaja di SMA Muhammadiyah 3 Surakarta. Simpulan: Sebagian besar responden menyatakan memperoleh informasi seksualitas dari teman sebaya. Ada hubungan bermakna peran teman sebaya dengan perilaku seksual pranikah pada remaja di SMA Muhammadiyah 3 Surakarta Kata kunci: peran teman sebaya, perilaku seksual pranikah GASTER Vol. 10 No. 1 Februari 2013 40 Peran Teman Sebaya terhadap Perilaku Seksual... Remaja 2002” remaja yang tercakup adalah mereka yang berusia 10 sampai 24 tahun (BKKBN, 2004) Arus informasi melalui media masa baik berupa majalah, surat kabar, tabloid maupun media elektronik seperti radio, televisi, dan komputer, mempercepat terjadinya perubahan. Meskipun arus informasi ini menunjang berbagai sektor pembangunan, namun arus informasi ini juga melemahkan sistem sosial ekonomi yang menunjang masyarakat Indonesia. Remaja merupakan salah satu kelompok penduduk yang mudah terpengaruh oleh arus informasi baik yang negatif maupun yang positif. Perbaikan status wanita, yang terjadi lebih cepat sebagai akibat dari transisi demografi dan program keluarga berencana telah mengakibatkan meningkatnya umur kawin pertama dan bertambah besarnya proporsi remaja yang belum kawin. Hal ini adalah akibat dari makin banyaknya remaja baik laki-laki maupun perempuan yang meneruskan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi dan makin banyaknya remaja yang berpartisipasi dalam pasar kerja. Panjangnya waktu dalam status lajang maupun kesempatan mempunyai penghasilan mempengaruhi remaja untuk berperilaku berisiko antara lain menjalin hubungan seksual premarital, minum minuman keras, menggunakan obat terlarang (Narkoba) yang dapat mengakibatkan tertular penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS (BKKBN, 2004) Ketidaksiapan remaja menghadapi perubahan dalam dirinya termasuk dorongan seks mulai meningkat dan sulit dikendalikan, tidak jarang hal tersebut menyebabkan konflik pada diri remaja. Situasi tersebut diperburuk dengan adanya kemudahan remaja dalam mengakses informasi tentang seks yang keliru melalui media cetak dan elektronik misalnya majalah, video dan internet, Informasi yang keliru akan mengganggu derajat kekebasan individu (remaja) dalam mengambil keputusan terhadap situasi tertentu. Banyak remaja yang tidak tahu bagaimana mencari informasi yang benar mengenai kesehatan reproduksi, baik di sekolah maupun di rumah. Kesempatan untuk diskusi tentang kesehatan reproduksi masih sangat terbatas, bahkan masih banyak orang tua dan guru yang menganggap tabu untuk dibicarakan. Orang tua seharusnya merupakan pihak pertama yang bertanggungjawab memberikan informasi tentang kesehatan reproduksi bagi remaja, selain pihak sekolah melakukan pendidikan seksual untuk memotivasi pilihan yang sehat bagi siswa dalam perilaku seksualnya (Whitaker et al, 2000).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar