Sabtu, 11 Mei 2013

Peningkatan Kinerja Perawa

GASTER Vol. 10 No. 1 Februari 2013 57 GASTER Vol. 10 No. 1 Februari 2013 57 Peningkatan Kinerja Perawat dalam ... Kata kunci: supervisi, kinerja, perawat A. PENDAHULUAN Globalisasi memberikan dampak positif bagi setiap profesi kesehatan untuk selalu berupaya meningkatkan kinerja profesionalnya dalam berko ntribusi p ada pemenuhan kebutuhan kesehatan masyarakat. Tenaga profesional kesehatan termasuk didalamnya tenaga keperawatan dituntut untuk memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Pelayanan kesehatan yang berkualitas hanya dapat diwujudkan dengan pemberian layanan kesehatan yang profesional, demikian juga dengan pemberian asuhan keperawatan harus dilaksanakan dengan praktik keperawatan yang profesional. Praktik keperawatan harus dikembangkan ag ar k u al it as pe lay an an k ep erawat an meningkat. Pengembangan MPKP di Indonesia dikembangkan dengan mempertimbangkan perkembangan keperawatan di Indonesia. Hasil penelitian Kertayasa (2007) tentang pelaksanaan MPKP di RSUD Mataram menunjukkan jumlah tenaga perawat yang tersedia dibandingkan dengan jumlah pasien berdasarkan derajat ketergantungan, cukup memadai dalam mendukung pelaksanaan MPKP. Pendidikan perawat sangat mendukung terlaksananya kegiatan di ruang MPKP. Penelitian Afandi (2007) di Ruang Dahlia PENINGKATAN KINERJA PERAWAT DALAM PENERAPAN MPKP DENGAN SUPERVISI OLEH KEPALA RUANG DI RSJD SURAKARTA Mulyaningsih Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ’Aisyiyah Surakarta ABSTRAK Latar Belakang: Supervisi merupakan salah satu fungsi manajemen yang penting dilakukan untuk meningkatkan kinerja perawat dalam penerapan MPKP. Penelitian cross sectional pada 71 perawat di RSJD Surakarta ini bertujuan untuk membuktikan adanya hubungan antara supervisi dan karakteristik individu dengan kinerja perawat dalam penerapan MPKP di RSJD Surakarta. Hasil penelitian membuktikan adanya hubungan antara supervisi dan pelatihan MPKP dengan kinerja perawat dalam penerapan MPKP (p=0,00-0,024; α 0,05). Sedangkan untuk faktor usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan masa kerja tidak berhubungan dengan kinerja perawat dalam penerapan MPKP di RSJD Surakarta. Faktor paling berpengaruh terhadap kinerja perawat dalam penerapan MPKP adalah supervisi. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka kepala ruang perlu melakukan supervisi secara teratur dan terus menerus kepada perawat. GASTER Vol. 10 No. 1 Februari 2013 58 Peningkatan Kinerja Perawat dalam ... RSUD Kabupaten Temanggung menunjukkan hasil ketenagaan perawat di dominasi oleh lulusan D III Keperawatan yaitu 91,7%. Sedangkan perawat yang sudah mencapai tingkat pendidikan sarjana baru 1 orang yaitu 8,3%. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan di ruang MPKP dapat mendukung kualitas pelayanan. Hasil penelitian Afandi (2007) menunjukkan bahwa serah terima tugas jaga (operan jaga) diperoleh hasil 96,9%, sedangkan pre-conference diperoleh hasil 80,6%, dan post-conference diperoleh hasil 70,8%. Dari data tersebut menunjukkan bahwa kegiatan di ruang MPKP sudah cukup efektif. Meskipun pelaksanaan kegiatan berjalan dengan baik namun masih lemah dalam pendokumentasian. Berdasarkan laporan praktek manajemen di RSJD Surakarta bahwa kegiatan di ruang MPKP sudah berjalan dengan baik. Operan antar shift 90% sudah dilakukan namun belum semua perawat dapat mengikuti, conference sudah terlaksana dengan baik (83,3%). Hal ini dikarenakan perawat belum terbiasa melakukan kegiatan dalam MPKP. Menu rut k epala Ruan g Dahlia b elum terbentuk pola dan kebiasaan melakukan post conference, dan masih banyak anggapan post conference mengakibatkan mereka harus rela telat pulang kerja (Afandi, 2007). Berbagai pengalaman dapat dirasakan oleh perawat setelah menerapkan MPKP. Pengalaman yang menyenangkan yaitu bisa memberikan asuhan keperawatan yang profesional pada pasien, sedangkan pengalaman yang kurang menyenangkan yaitu terdapat banyak hambatan. Hambatannya antara lain kurangnya perawat, dukungan manajemen kurang, kurang supervisi, kurang motivasi, belum ada penghargaan, dan kurangnya fasilitas (Rohmiyati). Pelaksanaan MPKP agar dapat berjalan dengan baik maka diperlukan supervisi dari kepala ruang. Supervisi dari kepala ruang dapat memberikan pengaruh terhadap peningkatan kerja perawat. Ini sesuai dengan dengan hasil penelitian dari Lupiah dkk yang menyatakan bahwa ada hubungan antara supervisi dengan kinerja perawat. Hasil penelitian ini juga didukung oleh Pribadi (2009) bahwa perawat mempunyai persepsi yang baik tentang supervisi kepala ruang. Hasil penelitian ini juga membuktikan adanya hubungan antara faktor persepsi perawat mengenai supervisi terhadap pelaksanaan dokumentasi asuhan keperawatan. Peran dan fungsi supervisor sangat penting untuk perkembangan kinerja perawat. Evaluasi kinerja dimaksudkan sebagai umpan balik kepada karyawan mengenai pandangan organisasi terhadap kinerja karyawan, sebagai t dalam ... Kata kunci: supervisi, kinerja, perawat A. PENDAHULUAN Globalisasi memberikan dampak positif bagi setiap profesi kesehatan untuk selalu berupaya meningkatkan kinerja profesionalnya dalam berko ntribusi p ada pemenuhan kebutuhan kesehatan masyarakat. Tenaga profesional kesehatan termasuk didalamnya tenaga keperawatan dituntut untuk memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Pelayanan kesehatan yang berkualitas hanya dapat diwujudkan dengan pemberian layanan kesehatan yang profesional, demikian juga dengan pemberian asuhan keperawatan harus dilaksanakan dengan praktik keperawatan yang profesional. Praktik keperawatan harus dikembangkan ag ar k u al it as pe lay an an k ep erawat an meningkat. Pengembangan MPKP di Indonesia dikembangkan dengan mempertimbangkan perkembangan keperawatan di Indonesia. Hasil penelitian Kertayasa (2007) tentang pelaksanaan MPKP di RSUD Mataram menunjukkan jumlah tenaga perawat yang tersedia dibandingkan dengan jumlah pasien berdasarkan derajat ketergantungan, cukup memadai dalam mendukung pelaksanaan MPKP. Pendidikan perawat sangat mendukung terlaksananya kegiatan di ruang MPKP. Penelitian Afandi (2007) di Ruang Dahlia PENINGKATAN KINERJA PERAWAT DALAM PENERAPAN MPKP DENGAN SUPERVISI OLEH KEPALA RUANG DI RSJD SURAKARTA Mulyaningsih Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ’Aisyiyah Surakarta ABSTRAK Latar Belakang: Supervisi merupakan salah satu fungsi manajemen yang penting dilakukan untuk meningkatkan kinerja perawat dalam penerapan MPKP. Penelitian cross sectional pada 71 perawat di RSJD Surakarta ini bertujuan untuk membuktikan adanya hubungan antara supervisi dan karakteristik individu dengan kinerja perawat dalam penerapan MPKP di RSJD Surakarta. Hasil penelitian membuktikan adanya hubungan antara supervisi dan pelatihan MPKP dengan kinerja perawat dalam penerapan MPKP (p=0,00-0,024; α 0,05). Sedangkan untuk faktor usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan masa kerja tidak berhubungan dengan kinerja perawat dalam penerapan MPKP di RSJD Surakarta. Faktor paling berpengaruh terhadap kinerja perawat dalam penerapan MPKP adalah supervisi. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka kepala ruang perlu melakukan supervisi secara teratur dan terus menerus kepada perawat. GASTER Vol. 10 No. 1 Februari 2013 58 Peningkatan Kinerja Perawat dalam ... RSUD Kabupaten Temanggung menunjukkan hasil ketenagaan perawat di dominasi oleh lulusan D III Keperawatan yaitu 91,7%. Sedangkan perawat yang sudah mencapai tingkat pendidikan sarjana baru 1 orang yaitu 8,3%. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan di ruang MPKP dapat mendukung kualitas pelayanan. Hasil penelitian Afandi (2007) menunjukkan bahwa serah terima tugas jaga (operan jaga) diperoleh hasil 96,9%, sedangkan pre-conference diperoleh hasil 80,6%, dan post-conference diperoleh hasil 70,8%. Dari data tersebut menunjukkan bahwa kegiatan di ruang MPKP sudah cukup efektif. Meskipun pelaksanaan kegiatan berjalan dengan baik namun masih lemah dalam pendokumentasian. Berdasarkan laporan praktek manajemen di RSJD Surakarta bahwa kegiatan di ruang MPKP sudah berjalan dengan baik. Operan antar shift 90% sudah dilakukan namun belum semua perawat dapat mengikuti, conference sudah terlaksana dengan baik (83,3%). Hal ini dikarenakan perawat belum terbiasa melakukan kegiatan dalam MPKP. Menu rut k epala Ruan g Dahlia b elum terbentuk pola dan kebiasaan melakukan post conference, dan masih banyak anggapan post conference mengakibatkan mereka harus rela telat pulang kerja (Afandi, 2007). Berbagai pengalaman dapat dirasakan oleh perawat setelah menerapkan MPKP. Pengalaman yang menyenangkan yaitu bisa memberikan asuhan keperawatan yang profesional pada pasien, sedangkan pengalaman yang kurang menyenangkan yaitu terdapat banyak hambatan. Hambatannya antara lain kurangnya perawat, dukungan manajemen kurang, kurang supervisi, kurang motivasi, belum ada penghargaan, dan kurangnya fasilitas (Rohmiyati). Pelaksanaan MPKP agar dapat berjalan dengan baik maka diperlukan supervisi dari kepala ruang. Supervisi dari kepala ruang dapat memberikan pengaruh terhadap peningkatan kerja perawat. Ini sesuai dengan dengan hasil penelitian dari Lupiah dkk yang menyatakan bahwa ada hubungan antara supervisi dengan kinerja perawat. Hasil penelitian ini juga didukung oleh Pribadi (2009) bahwa perawat mempunyai persepsi yang baik tentang supervisi kepala ruang. Hasil penelitian ini juga membuktikan adanya hubungan antara faktor persepsi perawat mengenai supervisi terhadap pelaksanaan dokumentasi asuhan keperawatan. Peran dan fungsi supervisor sangat penting untuk perkembangan kinerja perawat. Evaluasi kinerja dimaksudkan sebagai umpan balik kepada karyawan mengenai pandangan organisasi terhadap kinerja karyawan, sebagai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar